Covert Art of Islah 21

Editorial

Angkatan 21 Alumni Husnul Khotimah isinya adalah para perindu. Belum juga rampung 6 bulan pasca kelulusan, sudah memaksa untuk bertemu lagi lewat reuni 2018 di kota Bogor, Jawa Barat. Memang seakan rasanya tak sudi untuk berpisah walau sebentar saja.

Tapi sayangnya, setelah reuni di Bogor itu, sekumpulan pemuda tanggung ini terpaksa harus berpisah kembali. Kali ini untuk waktu yang bahkan jauh lebih lama: tidak menentu. Mereka harus menjalani masa-masa di mana waktu, perlahan tapi pasti dan tanpa disadari, mencabut paksa kenangan mereka selama bertahun-tahun bersama. Mereka menjalani hidup masing-masing, mendapatkan teman dan pengalaman baru, mengisi ruang-ruang memori kosong di kepala. Tetapi, untungnya, memori bertahun-tahun bersama tidak tergeser barang sedikit.

Justru karena memori-memori itu tidak tergeser, akhirnya suara-suara mereka semakin berisik. Justru karena memori-memori itu tidak tergeser, dorongan-dorongan mereka semakin mengusik. Memaksa diri untuk berbicara, memaksa diri untuk bergerak. Ingin rasanya kembali bertemu dengan wajah-wajah familier di ruang-ruang memori yang sudah lama dibiarkan terkunci itu. Rasanya, suara dari ruang-ruang memori ini tidak mau kalah dengan ramainya memori-memori baru yang masuk di kepala.

Akhirnya, terjadilah reuni. Sebuah wadah yang memberi kesempatan kepada setiap suara di kepala untuk memuaskan hasrat rindu mereka. Harapan adanya wadah reuni ini sebenarnya sederhana; untuk menenangkan suara-suara dari ruang memori itu sendiri.

Tapi naas. Tanpa disangka-sangka reuni ini malah -bukan hanya gagal- tapi lebih buruk dari itu. Yang seharusnya diharapkan bisa meredam suara-suara rindu, reuni malah membuatnya berubah menjadi teriakan-teriakan yang menggema. Ketika satu per satu perindu itu pulang, ketika satu per satu perindu itu angkat kaki dari Yogyakarta, suara-suara memori sudah mulai gemas karena kesal. Sampai akhirnya, perindu terakhir yang tersisa pergi dari daerah istimewa itu, suara teriakan marah ruang rindu berubah menjadi isak tangis.

Tidak berlebihan kalau suara ruang memori digambarkan dengan isak tangis. Karena kita sadar bahwa momen reuni kemarin itu sebetulnya sekali seumur hidup. Karena kalaupun 1 atau 2 tahun lagi akan diadakan, kondisinya tidak akan pernah bisa sama lagi. Beberapa orang bisa jadi sudah sibuk dengan pekerjaannya atau sibuk dengan pasangan bahkan keluarga kecilnya. Bila pun mereka bisa hadir, tak mungkin rasanya meninggalkan keluarga di rumah. Seorang suami pasti memikirkan istrinya, seorang istri rasanya akan sulit dilepas oleh suaminya. Bila keduanya hadir, tidak bisa tidur terlalu larut dan di tempat yang terpisah. Belum lagi kalau sudah punya buah hati, atau mungkin pasangan yang bukan berasal dari almamater yang sama.

Maka, demi mengabadikan momen sekali seumur hidup itu, kami, pensiunan kru majalah sekolah, mencoba memberikan sebuah karya sederhana untuk para perindu semua. Untuk mengabadikan momen pra reuni yang diisi dengan obrolan basa-basi seputar kondisi terkini, duduk-duduk di kedai kopi (atau minuman lain) sambil bercanda dan bergurau dengan gaya yang tidak berubah selama 4 tahun kebelakang, dan momen-momen bercengkrama di waktu malam seakan tidak ingin matahari segera terbit.

Majalah ini dibuat demi merekam momen-momen pas reuni yang menyatukan semua perindu, tak peduli latar belakang atau dekat jauh. Yang dulu bahkan tidak pernah bertegur sapa, bisa jadi sangat akrab dan bertukar banyak cerita.

Majalah ini dibuat demi merekam momen-momen pasca reuni yang masih diisi dengan obrolan-obrolan hangat walau di tempat-tempat yang berbeda. Diisi dengan pelukan-pelukan perpisahan yang erat dan penuh harap. Semoga suatu saat bisa kembali bertemu.

Majalah ini dibuat, untuk kalian, para perindu.

Teriring salam paling hangat,

Kru Akyas - GenQ

Disini Kita
Berkumpul

Bwat smwa yg denger ini,, smgt y!

Kata Si Ketua


“Ketika gua bisa ngomong di depan teman-teman Islah 21 dan bisa nyampein apa yang gua rasain, bagaimana pandangan gua tentang Islah, dan gambaran Islah yang gua mau kayak gimana ke anak angkatan, adalah hal yang cukup berkesan buat gua. Selain pengen ketemu, memang tujuan gua seriusin reuni ini adalah gua pengen nyoba menyamakan persepsi dengan anak angkatan tentang Islah itu sendiri, karena gue yakin akan besarnya potensi yang dimiliki anak-anak Islah 21. Mungkin ada beberapa orang yang masih menganggap kalau Islah tuh nggak sepenting itu, nggak guna, atau segala pikiran semacamnya. Dari sana, gua pengen coba ngasih sudut pandang baru dan ngubah persepsi lu semua kalau Islah tuh sebenarnya punya potensi yang gede. Jujur, sampai akhirnya bisa berdiri di depan anak angkatan buat nyampein apa yang gua pikirin jadi salah satu kepuasan buat gua pribadi karena akhirnya gua punya wadah yang bisa bikin semua yang tadinya cuma ada di kepala gua sampai ke telinga kalian. Juga, waktu gua akhirnya bisa mimpin takbir dan jargon kumpul angkatan, gila itu salah satu hal yang gua pengen banget. Gua kangen banget. Setelah 4 tahun, gua pengen ngerasain lagi neriakin sekaligus denger jargon angkatan dan itu semua terealisasi di malam reuni. Terima kasih banyak, semuanya.”

Ameng lagi megang mikrofon
Ahmad Ibrahim, ketua Islah 21 yang baru

Oleh: Nadia Tahani

Behind
The Scene

Serba-serbi rangkaian acara reuni yang menarik dan seru kemarin bener-benermemorable banget ya, fwen, di benak kita semua. Mulai dari pertama kali menjejakkan kaki di villa aja udah kerasa banget euforianya, belum lagi serangkaian acaranya yang sukses bikin kita semua fix nggak bisa move on sampai berhari-hari atau, mungkin, sampai bertahun-tahun!

Read More
Illustration about Tugu Jogja

Cerita dong, kack!

Kolom curhat dari mereka yang nggak berangkat

Dari: Dil

Mahasiswa Turki Semester Akhir yang Bucin Nggak Ketolong

Dari: Anonim Asal P**de****g

Korban PHP Dosbing :'(

Ucapan Terima Kasih dari Kru AKGQ


Benar adanya bahwa masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah. Demi mengenangnya, tercetuslah ide reuni ini sebagai momen untuk mengenang masa indah tersebut. Namun, yang terjadi adalah, bukan hanya mengenang, tetapi juga reuni ini sendirilah yang akhirnya menciptakan momen indah yang baru di masa yang berbeda. Untuk itu, demi merekam momen-momen indah agar tak terlupakan, kami berinisiatif untuk membuat sesuatu yang ke depannya dapat dikenang kembali, sehingga lahirlah majalah yang kalian baca ini. Sedikit cerita, di dalam proses pengerjaan ini, kami merasa sangat senang sekaligus haru, serta merasa beruntung karena akhirnya kami dapat kembali melahirkan karya yang terbentuk karena adanya momen berharga ini.

Terima kasih kami sampaikan kepada para pencetus reuni ini. Tanpa kalian mungkin tak akan lahir reuni yang bisa menjadi tempat "pulang". Terima kasih kepada para relawan yang sudah meluangkan serta mengerahkan waktu dan tenaganya demi mempersiapkan dan menyukseskan jalannya acara hingga menjadi acara yang sangat apik dan berkesan. Terima kasih kepada teman-teman tercinta Islah 21, Straighter dan Nuzhat, yang telah mengisi ruang demi ruang kekosongan hati satu sama lain dengan kisah dan kasihnya. Untuk itu, kami dedikasikan tulisan ini kepada siapa saja yang ingin menikmati kembali momen demi momen yang tak dapat terulang ini.